Laman

Jumat, 23 November 2012

Ratusan pendukung LGN memadati pemutaran Film Dokumenter Bob Marley


Volunteer LGN
Edukasi Bulanan (EB) LGN kali ini berbeda dengan biasanya. Kita menonton Film Dokumenter Bob Marley di “layar tancap” ditambah dengan suguhan musik dari Dhyo Haw dan beberapa musisi lokal pengunjung EB. Acara yang rencananya dimulai pukul 4.20 harus mundur hingga ibadah solat magrib selesai karena kejadian klasik yang selalu menimpa Jakarta, macet parah. Kemacetan ini bahkan menjadi trending topic pada Hari Pahlawan Nasional RI. Hal ini ternyata tidak menjadi penghalang bagi para pejuang senyum untuk hadir ke Rumah Hijau LGN. Mereka ada yang datang dari Banten, Yogyakarta, Bandung, Bekasi dan lainnya. Kelelahan yang terkuras diperjalanan seketika menjadi sirna ketika akhirnya mereka dapat melingkar bersama pejuang senyum lainnya di LGN.
Pukul 6.15 EB dimulai dengan sambutan dari Ketua LGN, Dhira. Dhira mengucapkan selamat datang di Rumah Hijau, rumah kalian sendiri, rumah para pejuang senyum. Di sini tempat kita berbagi kehangatan dan kedamaian. Apresiasi setinggi-tingginya juga kita berikan kepada Bob Marley sebagai pahlawan kedamaian dan pejuang legalisasi ganja. Bukan kebetulan hari ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November. Nilai-nilai kepahlawanan itu universal dan harus menjadi bagian dari nilai-nilai yang ada pada diri pejuang senyum. Bob Marley mengingatkan kita melalui lirik lagunya, “emancipate yourself from mental slavery, none but ourselves can free our mind.” Untuk berjuang melegalisasi ganja bersama LGN, setiap pejuang senyum harus bisa memerdekakan diri dari mental-mental terjajah. Jangan mau dijajah! Apalagi dijajah oleh pikiran-pikiran kotor kita sendiri. Oleh karena itu, Bob Marley mengatakan hanya diri kita sendiri yang mampu mengosongkan pikiran-pikiran dunia dan mengisinya dengan nilai-nilai luhur nan damai. Semangat inilah yang harus ada dalam diri pejuang senyum.
Film ini bermulai dari daerah Barat Afrika (sekarang Ghana). Di sana terdapat sebuah pintu bertuliskan Door of No Return yang menjadi gerbang utama bagi para budak-budak jajahan Inggris. Mereka memasuki kawasan dimana tenaga dan pikiran mereka dikuras oleh kaum penjajah. Latar belakang inilah yang kemudian membentuk identitas, musik dan keyakinan dalam kehidupan Bob Marley. Pria kelahiran Jamaika 1945 adalah buah perkawinan seorang wanita kulit hitam 16 tahun dan pria kulit putih 65 tahun. Bob Marley kecil merasa terpinggirkan dalam lingkungan sosial kulit hitam maupun kulit putih karena ia dianggab berkulit “merah”. Selain itu, Bob Marley tumbuh besar di daerah miskin perkotaan, Kingston. Terlihat jelas beban derita yang ia tanggung saat masa kecil bersama ibunya. Kurus sekali tubuhnya di usia 12 tahun. Kenyataan pahit ini berhasil dihiasi testimoni-testimoni ibunya, kawan main maupun musiknya, dan para kekasihnya (Bob memiliki 9 atau 10 anak dari 6 atau 7 wanita berbeda), membuat film ini menarik untuk ditonton.
Bob Marley dan bandnya, The Wailers,  mengembangkan aliran musik yang berbeda dengan tren musik lokal maupun internasional. Ritme reggae dan lirik-lirik bernuansa perdamaian, sindiran politik, kebebasan dan perjuang berhasil memukau para penikmat musik. Hal ini membuat karir mereka terus menanjak dan membawanya hingga ke tanah Amerika. Kepergian Bob Marley dari tanah asal membuat masyarakat Jamaika pada masa itu kehilangan sosok pemimpin. Kekosongan ini berhasil dimanfaatkan oleh para politikus untuk membagi Jamaika dalam 2 kubu politik besar. Perang antar sesama tidak bisa diredam dan menimbulkan banyak korban jiwa. Melihat kondisi kampung halaman yang luluh lantah oleh keserakahan politikus, membuat Bob Marley kembali ke Jamaika. Alhasil, Ia berhasil mengajak kedua pemimpin kubu parta politik itu berjabat tangan di atas panggung. Banyak hal-hal lain dikemukakan dalam film dokumenter ini dan membuat kita semua paham mengapa Bob Marley menjadi figur perdamaian di dunia.

Dhio Haw feat. Upi – Legalisasiganja

Pengunjung Edukasi Bulanan LGN
Film Dokumenter Marley membuat para pejuang senyum terpaku di posisinya selama kurang lebih 2 jam. Mereka ada yang duduk dirumput, bersandar di pohon bahkan berdiri dipinggir-pinggir trotoar. Kita semua belajar dan memahami bahwa perjalanan hidup yang dilalui Bob Marley dari kecil hingga menjadi “Sang Pencerah” dilalui dengan suka dan duka dalam semangat yang tak pernah mati. Get up stand up, stand up for your rights! Salam damai pejuang senyum…. Terima kasih Bob Marley :)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar